Pentas Wayang Kulit Suran Pasar Wedi Sudah Mentradisi

Pasar Wedi sudah mentradisi pentas wayang kulit setiap bulan Jawa Sura. Pentas wayang kulit dengan lakon Wahyu Sri Kamulyan di lokasi tengah Pasar Wedi, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu Kliwon (7/11) juga menjadi media perenungan bagi para bakul.

Sudah puluhan tahun Pasar Wedi mengadakan pentas wayang kulit pada Bulan Jawa Sura, selain untuk melestarikan Budaya Jawa yang adhi luhung juga menjadi sarana untuk merenungi nilai-nilai budaya Jawa. Orang Jawa yang percaya bahwa hidup adalah penyelenggara dari Tuhan Allah. Keberhasilan dalam hidup di dunia adalah juga menjadi kemurahan dari yang menciptakan alam semesta. Orang Jawa juga percaya bahwa rezeki yang diterima setiap harinya meruapakan kemurahan dari Tuhan Allah yang mengasihi pada umat manusia.

Manusia pada kodratnya mesti selalu melihat diri sendiri pada waktu tertentu yang pas untuk merenunginya. Pada kesempatan merenungi inilah setiap manusia akan melihat perjalanan hidupnya. Dari perenungan inilah manusia akan menemukan sisi-sisi negatif maupun positif. Kalau dikaitkan dengan kegiatan para bakul yang melakukan aktivitas di Pasar Wedi untuk mengais rezeki, maka pada perenungan dengan nanggap wayang kulit semalam juga untuk melihat perjalanan hidupnya. Dalam merenungi perjalanan hidupnya dalang yang mementaskan wayang kulit sangat berperan untuk membantu para bakul merenungi perjalanan hidupnya sebagai bakul di Pasar Wedi.

Pentas wayang kulit dengan lakon Wahyu Sri Kamulyan yang dimainkan oleh Ki Dalang Surono dari Jarum, Bayat ditonton kurang lebih 700-an bakul Pasar Wedi dan masyarakat sekitar Kota Kecamatan Wedi. Hadir para pejabat Dinas Kantor Koperasi dan UMKM Kabupaten Klaten Bambang, Kepala UPTD Pasar Wilayah Kota Klaten Didik Sudiarto, Camat Wedi Kukuh, dan para staf unit Pasar Wedi.

Ketua Panitia Wayangan Suran Pasar Wedi yang juga Ketua Paguyuban Bakul Pasar Wedi Hariyanto, dalam sambutannya mengungkapkan ucapan terima kasih pada para bakul dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya pentas wayang kulit pada bulan Sura ini. Harapannya para bakul di Pasar Wedi mendapatkan keselamatan pada hari-hari yang akan datang.

Dalam kesempatan lain Didik Sudiarto menjawab pertanyaan Klaten Direktori mengenai apa latar belakang pentas wayang kulit di Pasar Wedi, ia mengatakan sesuai dengan adat Jawa yang sudah berjalan dan selalu dilakukan oleh para pedagang pendahulu di Pasar Wedi. Maka para pedagang sekarang tinggal melanjutkan untuk nguri-uri Budaya Jawa dengan nanggap wayang kulit setiap bulan Sura.

Kepala unit Pasar Wedi Indarwanto, terkait adanya pentas wayang kulit pada bulan Sura di Pasar Wedi ia mengatakan dengan melestarikan Budaya Jawa berupa pentas wayang kulit para pedagang akan mudah mencari rezeki di Pasar Wedi. Menurutnya nguri-uri Budaya Jawa perlu dilestarikan pada anak cucu. Karena budaya wayang kulit juga mendidik untuk hidup yang beretika.

Pentas wayang kulit dengan lakon Wahyu Sri Kamulyan yang dimainkan oleh Ki Dalang Surono cukup menarik. Dengan dibantu pesinden sebanyak tiga orang perempuan suasana menjadi hidup. Lebih-lebih pas adegan limbukan ada pesinden yang menari dengan iringan gending-gending yang dimainkan. Sampai pada dini hari masih ada ratusan penonton yang masih bertahan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *