Kirab Syukuran Banyu Desa Pluneng Diikuti Semua Elemen Masyarakat

BERITA KLATEN-Semua elemen masyarakat Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terlibat dalam kirab syukuran banyu dari Balai Desa Pluneng menuju Umbul Tirto Mulyono, Sabtu (14/10/2017) siamg. Dalam kirab sejenak mampir di Umbul Tirto Mulyani untuk mengambil air dimasukkan ke dalam guci-guci.

Kirab syukuran banyu ini merupakan kirab yang ke-4 diselenggarakan oleh warga Desa Pluneng.  Peserta kirab syukuran  banyu  ada 10 RT,  dan lembaga-lembaga yang ada di Desa Pluneng. Peserta kirab mengusung tumpeng berupa tumpeng nasi kuning lengkap lauknya, tumpeng buah-buahan.  Tumpeng-tumpeng yang diarak juga dilengkapi dari hasil bumi yang ada di Desa Pluneng. Kepala Desa Pluneng Wahyudi, beserta  perangkat Desa Pluneng, juga Camat Kebonarum Joko “Lodang” ikut kirab.

Sesampainya di Umbul Tirto Mulyono para peserta kirab menempatkan di pinggiran kolam renang Umbul Tirto Mulyono. Sambil menunggu hadirnya Rombongan Plt Bupati Klaten Sri Mulyani, di Umbul Tirto Mulyono ditampilkan oleh 4 orang perempuan yang main musik kotekan ciblon air dengan cara mengepyak-epyak tangannya ke air umbul Tirto Mulyono. Saat terdengar kotekan  air dialunkan nyanyian lagu jawa yang menggugah rasa gembira. Lagu yang dinyanyikan antara lain Gisik Gembiro, Konco-konco, dan lainnya.

Setelah rombongan Plt Bupati sampai di Umbul Tirto Mulyono, kemudian diteruskan tari gethek yang berjalan dari pinggir selatan menuju pinggir utara di kolam renang Umbul Tirto Mulyono. Di atas gethek ada sepasang penari pria dan wanita yang melenggak-lenggok menari. Sepasang penari tersebut sebagai simbol umbul lanang dan umbul wadon (putri).  Terasa suasana syahdu karena  ketika menari diiringi gending yang cocok. Gethek melaju pelan di atas air dengan didorong remaja yang berenang di Umbul Tirto Mulyono. Setelah gethek merapat di pinggir utara umbul Tirto Mulyono tepat di  depan Sri Mulyani duduk, kemudian sepasang penari langsung mentas dari gethek. Pemeran sepasang penari adalah Murni dan Jimbling. Sepasang perform yang menari di atas gethek yang mengapung  tersebut pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Klaten.

Rombongan Plt Bupati Klaten Sri Mulyani antara lain Kabag Humas Wahyudi, Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga  Joko Wiyono, Kepala Bapeda Bambang, Kepala DPKAD Sunarno,  dari Satpol PP dan lainnya. Sri Mulyani dalam sambutannya antara lain mengatakan  kirab syukuran banyu ini merupakan wujud bersyukur pada Allah Tuhan. Bersyukur karena warga Desa Pluneng diberi berkah oleh Allah Tuhan berupa air yang melimpah. Air umbul Tirto Mulyono  di Pluneng,  Kebonarum yang dapat untuk terapi juga dapat mendatangkan berkah bagi warganya.

Sri Mulyani juga mengungkapkan akan mengembangkan potensi wisata di Desa Pluneng. Sekitar Umbul Tirto Mulyono akan dikembangkan agar menjadi wisata andalan di Klaten. Menurutnya setelah Desa Ponggok, Desa Pluneng menjadi potensi ke-2 untuk dikembangkan wisata airnya yang jernih. Air umbul Tirto Mulyono yang dapat untuk terapi ini bisa mendatangkan berkah bagi Desa Pluneng. Untuk mengembangkan potensi Desa Pluneng, lanjut Sri Mulyani, perlu kerja kerja sama semuan pihak. Baik karang taruna, semua warga dan pemerintah Desa Pluneng  mesti perlu kerja sama. BUMDes juga mesti diberdayakan, sehingga semua elemen atau komponen masyarakat dilibatkan untuk mengembangkan Desa Pluneng. Tahun 2018 yang akan datang  obyek wisata Umbul Tirto Mulyono dapt dimulai, karena sudah tidak ada kendala asset. Karena itu Sri Mulyani mengajak Kepala Bapeda Bambang S, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Joko Wiyono, dan Kepala DPKAD Sunarno. Tujuannya agar keadaan  Umbul Tirto Mulyono dilihat oleh para kepala SKPD yang terkait.

Panitia syukuran banyu di Desa Pluneng Petrus Suhardjo, pada releasnya antara lain mengungkapkan syukuran bayu sebuah kegiatan yang berbentuk prosesi atau ritual memang lebih menekankan pada upaya penyadaran agar dilaksanakan pada tahun-tahun selanjutnya. Karena hanya dengan upaya yang terus menerus maka kegiatan merawat air akan disadari, menjadi kebiasaan, dan akhirnya dapat menjadi budaya.  Bukan air yang ingin kami wariskan, tetapi upaya merawat air yang lebih penting untuk dilestarikan. Bukan kegiatan syukuran banyu yang ingin kami budayakan,  tetapi upaya merawat air yang lebih penting untuk dibudayakan.

Untuk menyemarakkan suasana syukuran banyu juga akan dipentaskan wayang kulit di depan Balai Desa Pluneng, Sabtu (14/10/2017) malam dengan lakon Wahyu Tirto Sejati atau Semar kembar papat. Cerita lakon tersebut akan dimainkan oleh dalang Ki Tomo Pandoyo. Namun pada gelaran wayang kulit ini akan dibuka oleh dalang anak dari sanggar omah wayang. (ksd)

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *