Pentas Ketoprak Lakon Tresno Kurbaning Panguwoso Layak Direnungkan

BERITA KLATEN (BK)-Pentas ketoprak yang dimainkan oleh kelompok seni ketoprak Nongko Wijoyo dari Karangnongko dengan lakon cerita tresno kurbaning panguwoso di RSPD Klaten, Kamis (17/3) layak direnungkan bagi penonton. Karena lakon cerita tersebut mempunyai nilai moral.

Lakon cerita tresno kurbaning panguwoso adalah menceritakan kademangan kemangiran yang dinilai oleh Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram ada indikasi Ki Ageng Mangir Wonoboyo akan bersikap tidak taat pada Mataram. Sikap Ki Ageng Wonoboyo yang tidak mau memberi upeti pada Mataram.  Bahkan sikap Ki Ageng Wonoboyo diperkirakan akan mengancam kedudukan Panembahan Senopati di Kerajaan Mataram. Maka berbagai upaya tipu muslihat untuk mengenyahkan Ki Ageng Mangir Wonoboyo dari muka bumi ini.

Dalam lakon cerita tresno kurbaning panguwoso dikisahkan bala prajurit Mataram kalah perang melawan bala prajurit Ki Ageng Wonoboyo di Kemangiran. Karena itu Panembahan Senopati menggunakan putrinya yang bernama Pembayun untuk memikat Ki Ageng Wonoboyo yang memimpin kademangan di Kemangiran. Dengan aksi tipu muslihat Pembayun melakukan sebagai ledek untuk main “mbarang” di wilayah Kemangiran. Dengan cara main mbarang itulah akhirnya Pembayun berhasil memikat Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Antara Ki Ageng Wonoboyo dengan Pembayun yang mengganti nama Pengasih terjadi hubungan serius dalam percintaan. Pembayun setelah berhubungan serius percintaan telah hamil.

Singkat cerita, Pembayun ditemui Juru Mertani agar pulang ke Mataram dan akan dinikahkan resmi dengan Ki Ageng Wonoboyo. Namun ketika menghadap Panembahan Senopati sebagai calon mertua Ki Ageng Wonoboyo harus penuh hormat dan santun. Setelah Ki Ageng Wonoboyo melakukan sembah sujud dengan penuh hormat, yang terjadi Panembahan Senopati memegang kepala Ki Ageng Wonoboyo kemudian membenturkan (njebleskan) pada batu. Akhirnya Ki Ageng Mangir Wonoboyo  meninggal. Tipu muslihat Panembahan Senopati memperalat putrinya Pembayun, ini akhirnya berhasil membunuh Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Sehingga ancaman atau klilip bagi Kerajaan Mataram dapat dihilangkan, meski dengan memperalat anaknya putri bernama Pembayun untuk memikat. Ya inilah pengorbanan cinta untuk tujuan melanggengkan kekuasaan.

Dari pentas ketoprak lakon cerita tresno kurbaning panguwoso dapat untuk perenungan bagi penonton, dan bagi umat manusia. Ternyata tipu muslihat politik untuk melanggengkan kekuasaan sudah terjadi sejak jaman kerajaan. Manusia yang berbudaya dan berdemokrasi mestinya akan memilih yang beretika dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

IMG20170316233527

Pementasan ketoprak nongko wijoyo yanh dimainkan oleh tokoh seniman dari Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah cukup mempesona. Tokoh-tokoh yang ikut pentas ketoprak tersebut adalah beberapa orang kepala desa, Camat Karangnongko Jaka Supriyanto, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Karagnongko Suraji, dan beberapa tokoh seniwati. Yang berperan sebagai prajurit adalah siswa SMP Negeri 2 Karangnongko, dan siswa SMA Negeri 1 Karangnongko. Ki Ageng Mangir Wonoboyo diperankan oleh Kepala Desa Ngemplak Marsudi, sedangkan Pembayun atau Pengasih diperankan oleh Erin. Mereka yang dikasting sebagai tokoh maupun prajurit sudah menunjukkan dengan penampilan yang optimal, all out. (ksd)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *