SD Putra Bangsa Rintisan Kemajemukan

Sekolah Dasar (SD) Putra Bangsa di Klaten Tengah menjadi rintisan sekolah multi kultur, menjunjung tinggi kemajemukan. Sekolah yang menerima semangat kemajemukan mesti terus dikembangkan. Karena di sekolah inilah anak-anak sejak kecil sudah diajarkan untuk tidak menciptakan sekat-sekat keberdaan. Menanamkan rasa saling menghormati, dan saling mau menerima perbedaan antar sesama manusia akan terus digelorakan pada anak didik.

Demikian diungkapkan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Klaten Tengah Haji Isnaeni, ketika ia bersama tim monitoring dalam perjalanan untuk melakukan monitoring ujian sekolah di beberapa SD yang ada di wilayah UPTD pendidikan Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Selasa (19/5) pagi. Di tengah perjalanan menuju ke SD Putra Bangsa setelah monitoring di SD Kanisius Sidowayah, kemudian Haji Isnaeni melanjutkan menjelasakan mengenai sekolah rintisan kemajemukan. Dalam menjelaskan, Isnaeni mengatakan di SD Putra Bangsa akan menerima siswa dari berbagai latar belakang. Baik latar belakang agama, budaya, etnis, dan lainnya. Maka, lanjut Haji Isnaeni, semua siswa SD Putra Bangsa akan menerima pelajaran agama sesuai dengan agama yang dianut siswa, dan diajar oleh guru yang seagama dengan siswa. “Sama dengan sekolah di sekolah negri. Ini merupakan proses pendidikan yang mestinya diteruskan, dan sangat baik,”tutur H Isnaeni.

Selesai H Isnaeni menuturkan tentang konsep sekolah kemajemukan, tahu-tahu mobil yang ditumpangi oleh tim monitoring pelaksanaan US sudah sampai di depan pintu gerbang SD Putra Bangsa Klaten. Tim monitoring US ialah H Esnaeni, Mulyadi, dan Nur langsung turun dari mobil terus berjalan menuju ke ruang kantor SD Putra Bangsa, langsung diterima oleh Kepala SD Putra Bangsa Adiyanto, dan beberapa orang guru. Setelah berbincang sekitar selama 10 menit kemudian H Isnaeni, Mulyadi, dan Nur menuju di depan pintu ruangan ujian sekolah untuk melihat situasi pelaksanaan ujian sekolah. Suasana SD Putra Bangsa amat tenang, jauh dari kebisingan, sehingga cukup mendukung untuk belajar.

Selesai monitoring di SD Putra Bangsa kemudian meluncur ke SD Maria Assumpta. Sampai di SD Maria Assumpta langsung melihat dari luar ruangan-ruangan yang digunakan untuk ujian sekolah. Setelah melihat ruangan-ruangan untuk ujian sekolah tim monitoring kemudian bebincang-bincang dengan Kepala SD Maria Assumpta dan beberapa guru. Setelah dari SD Maria Assumpta terus menuju monitoring di SD Negeri 2 Bareng, dan kemudian dilanjutkan monitoring ke SD Negeri 1 Bareng. Untuk giliran monitoring terakhir di SD Negeri Kabupaten.

Sampai di Kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Klaten Tengah, H Isnaeni menjawab pertanyaan Klaten Direktori mengenai jumlah peserta ujian sekolah, Haji Isnaeni mengatakan jumlah peserta ujian ada 140 siswa. Dari jumlah tersebut, ada SD yang siswanya ada yang masuk kategori anak berkebutuhan khusus (ABK), ialah SD Negeri 2 Semangkak. SD Negeri 2 Semangkak siswa kelas 6 jumlahnya 28 anak, namun ada 2 anak yang kategori ABK, maka di Klaten Tengah peserta ujian sekolah yang kategori ABK ada 2 anak. Dikatakan juga SD Alam yang lokasinya berada timur Stasiun Klaten ujiannya ikut gabung di SD Negeri 3 Klaten. “Siswa yang masuk kategori ABK di sekolah lain juga ada, namun belum dudul di kelas 6. Ialah di SD Negeri 2 Bareng ada 2 anak, SD Alam ada 3 anak, SD Negeri Tonggalan ada 2 anak,”ujar Haji Esnaeni.

Untuk standar kelulusan (SKL) di masing-masing sekolah, Isnaeni menyarankan agar sekolah menyesuaikan kondisi realitas atau nyata di masing-masing sekolah dasar. Apalagi untuk sekolah ada siswanya kelas 6 yang kategori ABK, ini perlu cermat menentukan SKL. “Maka dalam menentukan SKL kepala sekolah bersama dewan guru harus cermat, teliti, dan bijaksana. Target saya yang utama, siswa dalam mengerjakan ujian sekolah dengan penuh kejujuran. Anak mesti jujur 100%,”tandas Isnaeni menghimbau.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *