Grebeg Syawal Menjadi Media Silahturahmi Masyarakat Klaten

BERITA KLATEN – Tradisi Grebeg Syawal yang digelar di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah menjadi media silahturahmi masyarakat Kabupaten Klaten, Jumat (22/6/2018).

Tradisi Grebeg Syawal di Bukit Sidoguro di Desa Krakitan yang diselenggarakan setiap Bulan Syawal merupakan kegiatan Pemkab Klaten  upaya untuk melestarikan tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun. Dalam Grebeg Syawalan ini menjadi media silahturami bagi masyarakat Klaten. Dalam kesempatan menghadiri Grebeg Syawalan masyarakat dapat bertegur sapa dalan puncak merayakan Syawalan ini. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Dan Olah Raga Kabupaten Klaten Pantoro,  ketika menyampaikan laporan pelaksanaan Grebeg Syawalan tahun 2018.

Lebih lanjut Pantoro mengungkapkan, tujuan Grebeg Syawalan ini kecuali sebagai media untuk silahturami masyarakat Klaten, juga untuk melestarikan tradisi, ajang untuk mempromosikan tempat wisata Rowo Jombor, dan juga untuk menggerakkan roda perekonomian di wilayah Desa Jimbung dan Desa Krakitan. Tradisi Grebeg Syawalan tahun 2018 ini disediakan gunungan ketupat, buah, dan sayuran sejumlah 20 gunungan.  Gunungan ketupat, buah-buahan, dan sayuran dibuat oleh BKK, RS Bagas Waras, Toko Amigo, SKPD, dan dari perusahaan milik daerah  lainnya. Selain itu disediakan ketupat siap saji sejumlah  2 000-an. Dikatakan juga sebelum diadakan puncak Grebeg Syawalan hari Selasa (19/6/2018) lalu diadakan lomba gethek yang ditandai dengan pelepasan itik oleh Bupati Klaten Hj Sri Mulyani.

Untuk memeriahkan suasana Grebeg Syawalan di Bukit Sidoguro diawali tarian, dan sendratari Roro Jonggrang oleh Sanggar Tari Sri Rama Prambanan diiringi kelompok Karawitan Parikesit dari Gereja Katolik SPM Bunda Kristus Wedi. Penampilan sendratari Roro Jonggrang cukup memukau para Pejabat Pemkab Klaten yang melihatnya.

Dalam Grebeg Syawalan di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan nampak hadir Bupati Klaten Hj Sri Mulyani, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Urip Shafudin, Profesor Suratman, Kasdim Klaten Mayor Sapto Budi, Assisten Bupati dr Ronny Rukmito, Sri Winoto, Sekda Joko Sawaldi,  Kepala Dinas Perhubungan Slamet Widodo, para camat se Kabupaten Klaten,  dan tamu undangan lainnya.

Bupati Hj Sri Mulyani, dalam sambutannya antara lain menyampaikan pesan agar kupat dan buah-buahan yang dirayah jangan untuk lempar-lemparan. Karena kupat-kupat itu merupakan rejeki. Kupat-kupat, serta sayuran yang didapat agar dibawa pulang dan dimasak untuk dimakan. Sri Mulyani menegaskan kalau kupat-kupat yang didapat untuk lempar-lemparan akan mengurangi rejeki bagi hadirin yang melempar kupat.

Sebelum gunungan ketupat ditempatkan di pelataran depan tamu, kurang lebih 12 gunungan ketupat ditata di bawah Bukit Sidoguro. Kemudian gunungan ketupat dikirab ke atas  menuju Bukit Sidoguro. Para pengirab adalah Perangkat Desa Krakitan, aktivis Karangtaruna, dan kelompok musik hadroh Krakitan. Peserta kirab memakai pakaian tradisi Jawa, dan juga ada yang memakai pakaian wayang tokoh punokawan, dan tokoh hanoman. Peserta kirab 50 orang dipimpin oleh Kepala Desa Krakitan Nurdin. (ksd)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *