SD Negeri 1 Bakung Berlakukan Kurtilas Dua Tahun Lalu

BERITA KLATEN-Kurikulum 13 (Kurtilas) di Sekolah Dasar  Negeri 1 Bakung, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah sudah diberlakukan dua tahun lalu dalam kegiatan belajar mengajar. Tahun ajaran 2017/2018 yang sudah menggunakan kurtilas kelas 1, 2, 4, dan kelas 5.  Sedangkan kelas 3 dan 6 masih  menggunakan kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP).

Demikian diungkapkan Kepala Sekolah Dasar ( SD) Negeri 1 Bakung Sunarto, ketika ditemui di kantornya, Selasa (24/10/2017). Lebih lanjut Sunarto menuturkan para guru kelas yang sudah menerapkan kurtilas bila menghadapi kesulitan didiskusikan dengan para guru yang sudah mengikuti diklat kurtiilas.  Selain itu juga dikonsultasikan pada kepala sekolah.  Menurut Sunarto para guru kelas yang  menggunakan kurtilas dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah dapat mengatasi sendiri bila ada problem. Para guru biasa membuka google bila mencari petunjuk untuk mencari materi KBM. Meskipun guru kelas di SD Negeri 1 Bakung didominasi para guru wiyata bhakti, namun para guru wiyata semangatnya tinggi.

Sunarto mengungkapkan, bila  guru di SD Negeri 1 Bakung menghadapi  kesulitan tidak perlu risau, yang penting asal para guru mau terus belajar untuk maju. Menurutnya guru wiyata bhakti di SD Negeri 1 Bakung banyak yang masih muda. Sehingga semangat untuk maju dan belajar masih menggelora. Apalagi guru wiyata bhakti yang direkrut  oleh Sunarto adalah lulusan PGSD dari Universitas Sanata Darma Yogyakarta. Sehingga para guru di SD Negeri 1 Bakung dapat diandalkan.  Untuk melengkapi sarana pembelajaran demi lancarnya KBM menggunakan kurtilas Sunarto akan berusaha mencukupi sarana. Antara lain bila dana sudah ada akan melengkapi LCD untuk tiap ruangan kelas.

Khalih guru kelas 1 SD Negeri Bakung ditemui BERITA KLATEN di sela-sela mengajar mengatakan sudah merasa mudah melakukan KBM. Menurutnya para siswa merasa senang dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, problem kurtilas ada pada orang tua siswa. Pengakuan para orang tua siswa yang menyampaikan pada Khalih adalah kesulitan mendampingi belajar anaknya di rumah. Karena orang tua siswa tidak memahami pengetrapan kurtilas.  Karena dalam kurtilas materi KBM dengan tematis. Dalam materi tematis adalah mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang terkait dengan temanya. Selain itu, problem yang dihadapi Khalih adalah dalam buku pembelajaran bagi siswa variasinya kurang. Misalnya dalam menggunakan kata atau istilah kadang belum dipahami siswa. Maka Khalih untuk persiapan KBM juga mencari variasi-variasi dari cara mengunduh dari google.

Lain lagi, Khusnul Khotimah sebagai guru kelas 4 di SD Negeri 1 Bakung pada BERITA KLATEN mengatakan merasa senang dengan pengetrapan kurtilas.  Ia sebagai guru di SD Negeri 1 Bakung sudah puluhan tahun. Meskipun masih status guru wiyata bhakti tetapi ia bersemangat untuk memandaikan siswa sebagai generasi penerus Bangsa Indonesia. Menurutnya, penyampaian materi KBM waktunya dirasa kurang. Karena materi tematis perlu butuh waktu banyak. Bisa juga 1 materi tematis bila diselesaikan dapat sampai sore dalam KBM. Untuk  penilaian bagi siswa pengakuan Khusnul Khotimah tidak ada kesulitan.

Sunarto dalam menciptakan keharmonisan para guru di SD Negeri 1 Bakung diciptakan suasana kekeluargaan.  Saling menyapa dan senyuman selalu tercipta sehari-hari di SD Negeri 1 Bakung. Para guru wiyata bhakti (WB) yang jumlahnya ada 5 orang diuasahakan merasa kerasan di SD Negeri 1 Bakung. Maka imbalan yang diberikan pada guru WB di  SD Negeri 1 Bakung yang  lumayan.

Para siswa juga diciptakan saling perhatian. Para siswa yang duduk di kelas lebih tinggi agar memperhatikan pada adik kelasnya. Yang tercipta di SD Negeri Bakung, lanjut Sunarto, bila ada adik kelas yang menangis kakak kelas terus mendekati untuk memberi perhatian pada adik kelasnya. Para siswa di SD Negeri Bakung tidak ada yang berkelahi. Tiap pagi sebelum bel masuk sekolah para siswa dibiasakan buka-buka buku sebagai literasi. Sunarto berharap pelaksanaan kurtilas di SD Negeri 1 Bakung dapat berjalan lancar.  Pada saatnya nanti semua kelas sudah menggunakan kurtilas.

Terkait Kurtilas, Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Prambanan Titin Widiyarsih ditemui di kantornya, hari Selasa (24/10/2017) mengungkapkan SMP Negeri 1 Prambanan sudah meluluskan dua angkatan yang sudah menerapkan kurtilas. Selama ini SMP Negeri 1 Prambanan menjadi percontohan pelaksanaan KBM menggunakan kurtilas. Hal itu juga diungkapkan Budi sebagai pengawas SMP yang menyampaikan sekolah model. Menurutnya guru yang sudah profesional tidak ada kesulitan menyampaikan KBM menggunakan kurtilas. Menurut Budi, guru ibaratnya dalang yang tidak akan kehabisan cerita.(ksd)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *