Tradisi Yaaqawiyyu Sebar Apem 5 Ton

Kegiatan tradisi rutin di Bulan Sapar warga Jatinom mengadakan sedekah apem sebagai media silaturahmi bagi masyarakat Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Upacara tradisi yang bernuansa melestarikan budaya juga untuk mengenang Kyai Ageng Gribig siar agama Islam dengan sebar 3 ton apem.

Rangkaian kegiatan tradisi Yaaqawiyyu sudah dibuka sejak hari Kamis (19/11) pekan lalu. Kemudian hari Kamis (26/11) sore dilangsungkan prosesi kirab atau arakan 2 gunungan apem. Kirab diawali dari halaman Kantor Kecamatan Jatinom menuju ke Masjid Agung Jatinom yang jaraknya kurang lebih sejauh 2 kilo meter. Namun sebelum menuju ke Masjid Agung, kirab 2 gunungan apem lebih dulu menuju ke Masjid Alit yang berada di sebelah timur Masjid Agung, yang jaraknya dari dari Masjid Agung sekitar 500 meter.

Sebelum prosesi kirab gunungan apem yang dilepas oleh Wakil Bupati Klaten Hj Sri Hartini, di halaman Kantor Kecamatan Jatinom diadakan penampilan bela diri adik-adik dari Merpati Putih. Adik-adik Merpati Putih menampilkan kemampuannya bela diri dan mematahkan sebilah besi. Di depan 2 gunungan apem kelompok drumband, reyog, dan kesenian lainnya mengawali kirab gunungan apem. Di jalan dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju menuju Masjid Agung masyarakat Jatinom maupun dari luar Jatinom tumpah ruah untuk melihat kirab gunungan apem. Jalan Jatinom yang ke Masjid Agung penuh, sehingga jalannya tidak dapat cepat. Dua gunungan apem diserahkan pada takmir Masjid Agung. Kemudian dua gunungan apem disimpan di rumah Pak Badi.

Camat Jatinom Sip Anwar, pada wartawan mengatakan, adanya sebar apem merupakan bekti pada Kyai Ageng Gribig, karena jasa Kyai Ageng telah membimbing warga masyarakat Desa Jatinom kala dulu. Apem berasal dari kata apor, yang berarti apuro. Umat Islam yang diciptakan Tuhan Allah selalu mohon apuro (maaf) pada Tuhan. Sehingga umat Islam di Jatinom yang dibimbingnya akan selalu takwa pada Tuhan Allah. Kemudian makna kirab atau arakan adalah merupakan budaya untuk menarik wisata. ”Karena kalau apem hanya disebar saja kurang menarik, tetapi kalau ada prosesi arakan ada yang menarik bagi pengunjung,”jelas Sip Anwar.

Ketua Panitia Upacara Tradisi Jaaqawiyyu Suyudi Suprapto pada Klaten Direktori mengungkapkan, tradisi Jaaqawiyyu di bulan Sapar (bulan Jawa) merupakan media untuk silaturahmi dan sedekah apem. Pengunjung yang berasal dari luar Jatinom, bahkan dari luar Klaten bila ingin sedekah apem beli dari warga Jatinom yang jual apem. Sedekah apem dari para pengunjung pada Jumat (27/11) siang setelah Sholat Luhur akan disebar dari menara yang ada di oro-oro sebelah selatan Masjid Agung. Menurut Suyudi Suprapto apem yang akan disebar kurang lebih 5 ton. ”Tradisi silaturahmi dan sedekah apem ini adalah unik dan perlu dilestarikan, dan bukan hal yang musrik,”jelas Suyudi S.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *