Semangat Paroki Bayat Murah Hati & Srawung Masyarakat

BERITA KLATEN – Setelah diresmikan, semangat Umat Katolik Paroki Santa Maria Ratu Bayat adalah gereja yang murah hati dan srawung dalam masyarakat, Rabu (1/1/2020).

Semangat itu diungkapkan oleh salah seorang pengurus Dewan Pastoral Paroki Bayat ketika ditanya oleh Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko ketika mengawali homilinya. Karena itu menjadi bahan  homili atau kotbah bagi Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam memimpin Misa peresmian Paroki Bayat sebagai Paroki Mandiri, yang sebelumnya sebagai Paroki Administratif.

Uskup Agung Semarang Mgr  Robertus Rubiyatmoko dalam kotbahnya kemudian menegaskan agar semangat guyub Umat Katolik Paroki Santa Maria Ratu Bayat dipegang terus untuk pengembangan hidup paroki. “Agar Umat Katolik Paroki Bayat dikenal oleh masyarakat maka Umat Katolik harus srawung atau  ambyur di tengah masyarakat,”ajak Uskup Robertus Rubiyatmoko.

Peresmian Paroki Bayat sebagai Paroki mandiri yang lepas dari Paroki Wedi berdasar Surat Keputusan (SK) Uskup Agung Semarang Robertus Rubiyatmoko nomor 1655/10/I/’19. Sekaligus Uskup Robertus Rubiyatmoko juga  menunjuk Romo Yakobus Winarto sebagai Romo Paroki Bayat. Dalam Misa peresmian Paroki Bayat sebagai Paroki Mandiri ada beberapa romo selebran. Antara lain para romo asli Bayat Romo Awan, para romo yang pernah tugas di Paroki Wedi, para romo paroki tetangga Paroki Bayat adalah Paroki Jombor, Romo Joko Paroki Cawas, Paroki Klaten, Paroki Dalem, dan tentunya Paroki Wedi juga ialah Romo Luhur dan Romo Supranowo.

Paroki Bayat saat diresmikan sebagai Paroki mandiri jumlah umat kurang ada 1.100-an jiwa dari 500-an kepala keluarga. Jumlah umat tersebut terbagi dari 10 lingkungan. Paroki Bayat yang dulunya status Paroki Administratif dipersiapkan selama 7,5 tahun untuk menjadi Paroki Bayat yang mandiri. Harapan Bapa Uskup Rubiyatmoko Umat Katolik Paroki Bayat, yang berada di Lemah Miring, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah selalu mohon pada Ibu Maria sebagai Bunda Allah agar selalu membimbing Umat Katolik Paroki Bayat.

Untuk memeriahkan suasana peresmian Paroki Bayat sebelum Misa dimulai diawali tari gambyong pareanom. Selesai Misa disuguhi nyanyian anak PIA, dan terus dilanjutkan sambutan dari Romo Luhur, Romo Winarto, dan Bapa Uskup Rubiyatmoko, dilanjutkan berkat oleh Bapa Uskup Rubiyatmoko, kemudian penandatanganan prasasti. Setelah itu pelepasan puluhan balon, dan penanaman pohon glodo kecut sebagai simbol pecut bagi Umat Katolik Paroki Bayat. Drumband TK Indriasana juga ikut memeriahkan peresmian Paroki Bayat. Setelah rangkaian itu selesai diteruskan Umat Katolik yang ikut Misa makan bersama. Tamu yang diundang pengurus  Dewan Paroki Wedi, ketua RT dan RW sekitar gereja,  Muspika Bayat, dan lainnya. Untuk menjaga keamanan selain TNI dan Polri, juga dibantu dari Pemuda Pancasila, Banser, Senkom, dan lainnya. (ksd)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *