Warga Besari Kulon, Desa Jabung Nguri-nguri Tradisi Sadranan

BERITA KLATEN – Sikap melestarikan tradisi sadranan bagi orang Jawa, warga Dusun Besari Kulon, Desa Jabung,  Kecamatan Gantiwarno, Klaten mengadakan prosesi sadranan yang dimulai dari depan rumah Kepala Desa Jabung Pramono Hadi hingga  di  Makam Brojowangsann, Jumat (13/2/2026).

Prosesi sadranan diawali dengan pelaporan oleh komandan bregodo prajurit pada Kepala Desa Jabung. Setelah laporan diterima oleh Kepala Desa Jabung Pramono Hadi, kemudian barisan Sadranan berangkat menuju ke Makam Brojowangsann, Besari Kulon.

Urutan barisan  paling depan adalah petugas pembawa senjata tumbak, terus bregodo prajurit sejumlah 19 orang, kemudian Kepala Desa Jabung Pramono Hadi mengenakan busana tradisi Jawa didampingi isterinya,  kemudian regu ibu-ibu mengenakan kain jarik  baju seragam  warna putih, kemudian diikuti oleh  petugas pengusung gunungan mengenakan pakaian kejawen motif lurik yang mengusung 3 gunungan dari rukun warga (RW) 9, 10, dan RW 11. Tiga gunungan dari 3 RW adalah 1 gunungan hasil bumi, dan 2 gunungan makanan olahan. Urutan di belakang petugas pengusung gunungan adalah sekitar 200-an warga masyarakat Besari Kulon.

Barisan bregodo prajurit siap prosesi sadranan (foto :p Kusdinarno)

Prosesi barisan sadranan yang dimulai dari depan rumah Kepala Desa Jabung menuju ke Makam Brojowangsan diiringi gamelan khas Jawa. Jarak dari depan rumah Kepala Desa Jabung sampai Makam Brojowangsan kurang lebih 1 kilo meter. Prosesi perjalanan sadranan suasananya terlihat meriah. Warga masyarakat Desa Jabung yang menyaksikan cukup banyak.

Sesampainya di depan Makam Brojowangsan 3 gunungan terdiri hasil bumi dan makanan olahan diperebutkan oleh warga masyarakat, yang berebut gunungan ada anak-anak remaja, pemuda, dan orang tua. Suasana berebut gunungan nampak gembira. Di makam Brojowangsan  juga  disediakan tumpeng nasi untuk kembul makan bersama.

Kepala Desa Jabung Pramono pada wartawan yang meliput mengungkapkan  kegiatan sadranan ini dilaksanakan rutin setiap tahun sekali pada bulan Ruwah. Tujuan  Sadranan ini adalah untuk mengirim doa pada leluhur dan momentum digunakan untuk silaturahim warga masyarakat. Karena warga masyarakat yang sibuk bekerja di rantauan pada bulan Ruwah untuk pulang mendoakan leluhurnya yang meninggal dan kesempatan untuk silaturahmi warga masyarakat. Adanya tradisi Sadranan mestinya  dilestarikan terus.

Tiga gunungan terdiri 1 gunungan hasil bumi, 2 gunungan makanan olahan diusung untuk diperebutkan oleh warga masyarakat. (foto :p.kusdinarno)

Pramono Hadi menjelaskan prosesi sadranan terdiri dari 19 orang bregodo, kemudian sekitar 10 penabuh gamelan, terus  diiringi para ibu, dan warga masyarakat dari tiga rukun warga yang jumlahnya sekitar 200-an orang.(ksd)

Cloud Hosting Indonesia

Tinggalkan Komentar