BERITA KLATEN – Gelaran pentas wayang semalam suntuk di Balai Desa Towangsan mengambil lakon Parikesit Jumeneng Ratu oleh Ki Dalang Sigit Isrudiyanto sebagai puncak kegiatan bersih desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (19/9/2026) malam.
Dalam pagelaran pentas wayang lakon Parikesit Jumeneng Ratu atau diungkapkan Luhuring Sesanggeman secara singkat (sinopsis) ialah, setelah perang Bharata Yuda lamanya sekitaran 20 tahun Pandawa menduduki tahta Hastina, ternyata perang tidak membawa kesejahteraan tetapi malah sebaliknya, belum makmur, timbul huru hara, banyak gangguan kriminalitas. Apalagi masih banyak provokator-provokator untuk balas dendam dari para keturunan Korawa yang membuat keadaan negara tidak kondusif. Akhirnya Raja Puntodewo menyerahkan tahta kepada cucunya bernama Raden Parikesit untuk jadi raja dan menata kembali keadaan negara Hastina. Estafet kepemimpinan negara Hastina diserahkan pada Raden Parikesit menjadi harapan tercipta makmur sejahtera di negara Hastina.
Pesan Ki Dalang Sigit Isrudiyanto dalam estafet kepemimpinan pemerintahan negara Indonesia, merujuk dari lakon Luhuring Sesanggeman, kepemimpinan dari pusat hingga tingkat pemerintahan desa menjadi pemimpinan yang amanah. Namun dalam estafet kepemimpinan tergantung dari para pemuda yang menjadi harapan bangsa.

Mengawali pentas wayang semalam suntuk, Ketua Panitia Heru Wiyono dalam sambutannya antara lain mengungkapkan mengucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh warga masyarakat Desa Towangsan, dan pada semua sponsor di mana saja yang mendukung kegiatan bersih desa di Desa Towangsan. Heru mengucapkan puji syukur atas rahmat dan anugerah dari Allah Tuhan. Harapannya kehidupan warga masyarakat Desa Towangsan damai dan selalu tercipta sejahtera.
Camat Gantiwarno Heru Wijoyo yang hadir pada pagelaran wayang tersebut, dalam sambutannya antara lain mengatakan matur nuwun pada warga Desa Towangsan dan mengapresiasi adanya bersih desa, dan puncak kegiatan bersih desa diadakan pagelaran wayang semalam suntuk mengambil lakon Luhuring Sesanggeman.
Setelah selesai pembukaan, Camat Gantiwarno Heru Wijoyo menyerahkan wayang tokoh Puntodewo pada Ki Dalang Sigit Isrudiyanto, yang sekarang masih menjabat sebagai Kepala Desa Towangsan.
Tamu undangan nampak hadir anggota DPRD Kabupaten Klaten Triyono dari Fraksi Golkar, Camat Gantiwarno Heru Wijoyo, Wakil Kepala MTS Gantiwarno Totok Purwanto, beberapa orang Kades Wilayah Kecamatan Gantiwarno, dan tamu undangan lainnya.
Ki Dalang Sigit Isrudiyanto, yang juga sebagai Kepala Desa (Kades) Towangsan ketika diwawancarai Berita Klaten.com antara lain menuturkan giat hari Sabtu malam ini adalah upacara puncak kegiatan bersih desa Towangsan dengan mengadakan pagelaran pentas wayang semalam suntuk. Sebelumnya tiap kampung tingkat rukun warga (RW) dan rukun tangga (RT) warga melakukan bersih-bersih di lingkungan, dan kampung RT dan RW. Selanjutnya secara phisik mengadakan bersih-bersih di makam, kemudian kenduri atau kondangan wujud ngleluri leluhur yang sudah meninggal.
Di Desa Towangsan ada 7 RW. Dengan kegiatan bersih desa ini untuk menyampaikan informasi program pemerintah desa (Pemdes) Towangsan baik yang sudah dikerjakan maupun belum dikerjakan. Sesuai dengan visi misi rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes).
Harapan Ki Dalang Sigit Isrudiyanto dalam pentas wayang ini adalah meningkatkan semangat warga Desa Towangsan untuk guyub rukun, gotong royong, dan rasa handarbeni. Menyadari bahwa warga masyarakat Towangsan lahir, hidup, dan mati di Desa Towangsan. Ki Dalang Sigit Isrudiyanto menegaskan pagelaran pentas wayang semalam suntuk menjadi ajang silaturahmi bagi warga masyarakat Towangsan.
Ki Dalang Sigit Isrudiyanto yang jam terbangnya sudah banyak, sehingga sudah piwai atau terampil memainkan tokoh-tokoh wayang dalam lakon Raden Parikesit Jumeneng di negara Hastina atau Luhuring Sesanggeman. Semaraknya lagi pagelaran wayang semalam suntuk tersebut juga menghadirkan 6 orang pesinden dari Boyolali, Karanganyar, dan Gunungkidul Wonosari. Enam orang pesinden yang bernama Sriyati, Ratih, Retno Monindar, Yusvina, Rani, dan Tata tidak diragukan lagi suara dan penampilannya. Tambah semarak lagi ketika saat limbukan adanya Aris “Bagong” yang banyak banyolan dagelannya yang lucu. Sehingga para penonton yang mbludag merasa terhibur. Aplaus dari para penonton menambah meriahnya pagelaran wayang.
Pentas wayang puncak giat bersih desa Towangsan juga disediakan ratusan undian. Hadiah undian berupa sembako wujud puluhan pack beras, susu, mie instan, kompor gas, alat-alat elektronik rumah tangga, dan hadiah undian utama berupa kambing, dan sepeda.
Yang mendapat utama adalah Harjo Suwanto dapat kambing, Sumanto dapat sepeda kecil, Saminten dapat sepeda, Mulyono dapat sepeda, dan Sumini juga dapat sepeda.
Pantauan Berita Klaten.com sampai berakhir pagelaran wayang, para penonton pagelaran pentas wayang lakon Luhuring Sesanggeman yang mendapat hadiah undian nampak gembira penuh suka cita. Akhir cerita Raden Parikesit cucunya Puntodewo disepakati menjadi raja Hastina, dengan sebutan nama Paripurna Dipoyo. Tepat mendekati pukul 03:30 pagelaran wayang dengan lakon Luhuring Sesanggeman berakhir.(ksd)