Temanku Lima Benua, Siapkan Beragam Karya Gelar Pameran di Fukuoka Jepang

BERITA KLATEN – Temanku Lima Benua (The Five Continents Friendship). Terlahir dengan nama itu, dan berdoa semoga ia punya teman di Lima Benua, salah satunya di Jepang!

Sejak kecil, ia sering membantu kakeknya menggagas ketahanan pangan, menjaga pohon dan hutan. Ia juga sering membantu neneknya membuat soto garing di Klaten.

Maknanya, Liben (nama panggilan akrab dari Temanku Lima Benua, yang juga berarti cinta dalam bahasa Jerman “Liebe”), mengenal betul urutan nasi atau sego yang berasal dari padi, tanaman lambang kesuburan, dan sangat dihormati masyarakat agraris di Pulau Jawa, Sulawesi, Bali, dan lainnya.

Dalam pameran di Fukuoka ini, Liben mencoba menghargai alam dengan cara mengeksplorasi komunikasi visual kucing lewat karya berupa batik di atas kain sepanjang 3 meter, karya di atas kertas dan barang bekas dengan material alam, serta permainan tradisional Indonesia yang akan ditampilkan secara inklusif.

Gangsing kayu berbentuk hewan ini untuk menyambut hari Hewan sedunia tanggal 4 Oktober. Gangsing ini akan dimainkan dan dibagikan di Taman Chuo Tenjin Fukuoka dalam kegiatan Pesta Indonesia Fukuoka 2026.

Dalam mitos Sulawesi, yang tertulis di Sureq La Galigo (naskah kuno terpanjang di dunia), kucing adalah teman setia dan pengawal Dewi Sri atau Dewi Padi yang disebut Meong Palo Karellae. Kucing ini sekaligus penjaga padi atau beras dari tikus dan itu selaras dengan upaya menjaga hasil panen anugerah dari Dewi Sri. Kucing ini selalu menyampaikan pesan moral agar manusia menghormati kerja keras petani sekaligus merawat alam.

Sebenarnya sama juga dengan mitos di Jepang, kucing Nekomata dan Bakeneko yang dihormati dan bercampur misteri, disayang, dan dikagumi seperti simbol-simbol Maneki neko yang dipercaya membawa rejeki dan kekayaan termasuk pelanggan bagi pemilik hotel, toko, dan bisnis. Bahkan, kucing hitam di Jepang justru dipercaya membawa keberuntungan serta kebahagiaan dan simbol perlindungan dari roh jahat.

Permainan tradisional bertulis Fukuoka Indonesia akan dimainkan dan dibagikan ke masyarakat Jepang.

Banyak masyarakat Indonesia yang mengenali produk-produk kucing Jepang seperti Hello Kitty, Doraemon, Pokemon sampai animasi dan anime Nekomata Okayu dari Hololive Production dan Nekoyama.

Di Indonesia, nama-nama itu akrab di telingga Gen Z, Gen Alfa, bahkan Gen Boomers masih ingat betul Hello Kitty.

Liben dalam Rengkuh Ragam mencoba menghargai alam dengan cara mengeksplorasi komunikasi visual kucing lewat batik, kertas bekas, kain luar sepatu, arang, koran, peta, dan lainnya.

Bagi Liben, kucing mempunyai hubungan yang kompleks dengan alam dan lingkungan, sebagai penjaga keseimbangan ekosistem alami dengan menjaga rantai makanan di alam (sawah, hutan) yang berpotensi menggangu Biomegadiversity (keanekaragaman hayati)

Kucing adalah simbol keunikan komunikasi visual diplomasi yang menarik perhatian publik dunia, dari Bobby Kertanegara (Indonjesi) sampai Larry The Cat (Inggris) yang mempunyai kemampuan mencairkan suasana hingga sisi-sisi humanis manusia.

Para penjaga keselarasan kehidupan yang harmonis antara lingkungan, alam dan budaya. Ini akan dipamerkan pada tanggal 2 Oktober di One Fukuoka Hotel.

Kolektif Rengkuh Ragam

Kolektif Rengkuh Ragam memiliki makna rengkuh yang berarti menarik arah ke tubuh dan jiwa (merangkul manusia, hewan, dan  tumbuhan sebagai makhluk hidup). Kata “menarik” diartikan sebagai menarik bumi dari kehancuran yang dikarenakan entropi bumi meningkat akibat climate change dan pemanasan global.

Sedang makna ragam yang berasal dari kata keberagaman dikarenakan Indonesia memiliki keberagaman budaya dan alam yang disebut “Megadiversity”.

Permainan Tradisional dengan tulisan Fukuoka indonesia.

Kolektif Rengkuh Ragam akan membawa gelombang seni budaya Indonesia (Indonesia Wave) ke kancah global melalui Generasi Z sebagai agen diplomasi budaya dengan cara membuat sketsa wajah atau potret selama 2 menit dan motif ke Indonesiaan selama 2 menit dengan material pewarna alam khas Indonesia.

Melalui event ini Kolektif Rengkuh Ragam ingin merekam jejak Megadiversitas baik secara pikiran, budaya, maupun bahasa pada masyarakat Kota Fukuoka.

Roundown kegiatan pameran Temanku Lima Benua di Jepang, dimulai dengan speech mengenai Strategi Diplomasi Inklusif budaya Indonesia.

Temanku Lima Benua

Temanku Lima Benua lahir pada 15 April 2002 di Klaten, Indonesia.

Temanku Lima Benua, yang akrab disapa Liben adalah seorang environmental art artist dan alumnus FSRD ISI Yogyakarta. Karya-karyanya konsisten mengangkat isu-isu lingkungan hidup, dengan memanfaatkan berbagai material dan pendekatan artistik yang dekat dengan alam.

Selain berkarya dalam bidang seni lingkungan, Liben memiliki kemampuan unik dalam membuat sketsa wajah secara spontan, hanya dalam waktu sekitar dua menit, dengan menggunakan arang pada kertas koran maupun daur ulang.

Temanku Lima Benua
Penulis: (*)
Editor: ksd

Tinggalkan Komentar