BERITA KLATEN – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, teknologi ini juga menghadirkan ancaman baru bagi keamanan masyarakat di dunia digital.Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan masyarakat agar semakin waspada terhadap penyalahgunaan AI yang memungkinkan pelaku kejahatan meniru suara, wajah, hingga identitas seseorang untuk melakukan penipuan.Peringatan tersebut disampaikan dalam kegiatan National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 28 Oktober 2026.Kemampuan AI dalam menghasilkan suara dan video yang menyerupai manusia asli membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali.

Penipu Bisa Meniru Suara Anggota Keluarga

Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah teknologi deepfake, yaitu teknik manipulasi gambar, video, atau suara menggunakan kecerdasan buatan.Dengan teknologi tersebut, pelaku dapat membuat rekaman suara yang terdengar menyerupai seseorang, termasuk anggota keluarga, teman, atau rekan kerja.Sebagai contoh, seseorang dapat menerima panggilan telepon dari nomor tidak dikenal dengan suara yang terdengar seperti anak, pasangan, atau anggota keluarganya.Pelaku kemudian mengaku sedang mengalami keadaan darurat dan meminta sejumlah uang segera ditransfer.Situasi semacam ini dapat membuat calon korban panik dan mengambil keputusan tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.Tidak hanya suara, teknologi deepfake juga dapat digunakan untuk membuat video yang menampilkan wajah seseorang seolah-olah sedang berbicara atau melakukan sesuatu, padahal kejadian tersebut tidak pernah berlangsung.

Komdigi Ingatkan Ancaman Keamanan Digital Semakin Kompleks

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, Raden Wijaya Kusumawardhana, menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman keamanan siber.Menurutnya, ancaman digital tidak lagi terbatas pada upaya peretasan sistem komputer, tetapi juga melibatkan manipulasi terhadap manusia sebagai pengguna teknologi.Teknologi AI bahkan dapat dimanfaatkan untuk menyusun pesan penipuan yang terlihat profesional, meyakinkan, dan sulit dibedakan dari komunikasi resmi.Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika menerima pesan yang meminta uang, data pribadi, atau informasi penting lainnya.

Tidak Hanya Melalui Telepon, Penipuan Bisa Menyasar WhatsApp

Penyalahgunaan AI berpotensi terjadi melalui berbagai platform komunikasi digital, termasuk aplikasi percakapan seperti WhatsApp, media sosial, dan layanan panggilan video.Modus yang perlu diwaspadai antara lain pesan yang mengatasnamakan anggota keluarga, permintaan transfer mendadak, hingga instruksi palsu dari seseorang yang mengaku sebagai pimpinan perusahaan.Dalam lingkungan kerja, pelaku dapat menggunakan identitas atasan untuk meminta karyawan melakukan pembayaran atau mengirimkan informasi rahasia.Sementara itu, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat menjadi sasaran penipuan yang memanfaatkan kedekatan emosional dengan keluarga maupun teman.Karena itu, masyarakat tidak disarankan langsung mempercayai sebuah pesan hanya berdasarkan suara, foto profil, atau video yang terlihat meyakinkan.

Lima Cara Menghindari Penipuan Berbasis AI

Untuk mengurangi risiko menjadi korban kejahatan digital, masyarakat dapat menerapkan sejumlah langkah pencegahan.

1. Verifikasi melalui saluran komunikasi lainJika menerima permintaan uang dari seseorang yang mengaku sebagai anggota keluarga, hubungi kembali orang tersebut melalui nomor yang sudah dikenal.

2. Jangan terburu-buru melakukan transferPenipu sering menciptakan situasi darurat agar korban merasa panik. Periksa terlebih dahulu kebenaran informasi sebelum mengirimkan uang.

3. Jangan membagikan kode OTP dan PINKode OTP, PIN, kata sandi, dan informasi perbankan merupakan data rahasia yang tidak boleh diberikan kepada pihak lain.

4. Waspadai video dan rekaman suara mencurigakanJangan langsung menganggap suatu video atau rekaman suara sebagai bukti autentik. Teknologi AI memungkinkan pembuatan konten palsu yang terlihat realistis.

5. Tingkatkan keamanan akun digitalGunakan kata sandi yang kuat, aktifkan autentikasi dua faktor, dan hindari membuka tautan mencurigakan dari pengirim yang tidak dikenal.

Literasi Digital Jadi Kunci Menghadapi Era AI

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, kemampuan masyarakat dalam memahami teknologi menjadi semakin penting.AI sebenarnya memiliki banyak manfaat positif, mulai dari membantu pekerjaan, meningkatkan produktivitas, mendukung pendidikan, hingga mempercepat pelayanan publik.Namun, teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan apabila tidak diimbangi dengan pemahaman dan kewaspadaan pengguna.Komdigi menekankan pentingnya literasi keamanan digital agar masyarakat mampu mengenali penipuan, melindungi identitas pribadi, dan memahami risiko penggunaan teknologi AI.Edukasi tersebut perlu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk pelajar, pekerja, pelaku UMKM, hingga kelompok lanjut usia yang mungkin belum terbiasa menghadapi modus kejahatan digital terbaru.Bagi masyarakat Kabupaten Klaten, meningkatnya penggunaan smartphone, layanan perbankan digital, dan aplikasi komunikasi juga perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga keamanan informasi pribadi.

Perkembangan teknologi AI tidak perlu ditakuti, tetapi harus disikapi dengan bijak. Masyarakat perlu semakin kritis terhadap informasi digital, terutama ketika menerima permintaan uang atau data pribadi yang mengatasnamakan orang terdekat.