BERITA KLATEN-Festival ketoprak remaja (FKR) yang kali pertama di Kabupaten Klaten, yang diselenggarakan di SD Kristen 3 Klaten, Sabtu (7/10/2017), akhirnya SMP Kristen 1 Klaten berhasil memboyong piala bergilir Bupati Klaten.
Setelah 3 orang dewan juri FKR yang terdiri St Wiyono dari Surakarta, Heru Subagyo dari Yogyakarta, dan Srihadi dari ISI Surakarta menetapkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen 1 Klaten sebagai juara 1 penyaji terbaik Festival Ketoprak Remaja yang baru kali pertama diselenggarakan di Kabupaten Klaten. Dalam FKR ini SMP Kristen 1 Klaten menyajikan ketoprak dengan lakon Katresnan Ing Candi Sewu. Selanjunya juara 2 diduduki oleh SMP Negeri 1 Klaten menyajikan lakon Mendung Ngendanu Katiyuping Samiran Turindha, dan juara 3 adalah SMP Negeri 7 Klaten, penyajiannya mengambil lakon Dumadine Rawa Jimbung. Untuk penyaji favorit FKR kali ini adalah SMP Negeri 7 Klaten.
Untuk kejuaraan FKR selanjutnya adalah penyaji harapan 1 ditempati SMP Negeri 2 Karangnongko mementaskan lakon Ontran-ontran Selo Puro, selanjutnya juara penyaji harapan 2 adalah SMP Negeri 4 Klaten mementaskan lakon Joko Blowo. Untuk tata rias dan kostum serta tata stage artistik terbaik disabet oleh SMP Kristen 1 Klaten.
Untuk kategori dagelan, yang menduduki dagelan di posisi juara 1 adalah SMP Negeri 4 Klaten dengan lakon Joko Blowo, juara 2 diduduki SMP Negeri 1 Klaten dengan lakon Mendung Ngendanu Katiyuping Samirana Turindha, dan juara 3 jatuh SMP Kristen 1 Klaten.
Kemudian untuk pemeran putri, juara pertama adalah tokoh Ratu Shima dari SMP Negeri 7 Klaten, juara 2 adalah tokoh Pembayun dari SMP Negeri 1 Klaten, kemudian juara 3 adalah peran Jonggrang dari SMP Kristen Klaten. Selanjutnya untuk peran pembantu putri, yang berhasil pada juara 1 adalah peran atau tokoh Candrawati dari SMP Kristen 1 Klaten, juara 2 adalah tokoh Putri Petak Melati dari SMP Negeri 2 Karangnongko, untuk juara 3 diraih oleh tokoh Ratu Wahdi dari SMP Negeri 7 Klaten.
Juara pemeran putra adalah, untuk juara 1 berhasil direbut oleh pemeran tokoh Bandung dari SMP Kristen 1 Klaten, juara 2 diduduki oleh pemeran Raden Joko Patohan dari SMP Negeri 7 Klaten, dan untuk juara 3 adalah peran Ki Ageng Wonoboyo dari SMP Negeri 1 Klaten. Sedangkan untuk peran pembantu putra, juara 1 direbut oleh pemeran Ki Juru Mertani dari SMP Negeri 1 Klaten, juara 2 oleh pemeran Prabu Boko dari SMP Kristen 1 Klaten, kemudian juara 3 pembantu putra diduduki oleh pemeran Patih Tambak Boyo dari SMP Negeri 7 Klaten.
Terselenggaranya FKR kali pertama ini juga untuk memperebutkan piala bergilir Bupati Klaten. Penyelenggara FKR adalah Kecamatan Klaten Tengah. Wilayah Kecamatan Klaten Tengah dipandang mempunyai potensi untuk mengembangkan seni budaya ketoprak. Karena itu dalam momentum hari ulang tahun Klaten dan HUT Republik Indonesia di tahun ini Kecamatan Klaten Tengah menyelenggarakan FKR. Peserta FKR adalah dari SMP. Untuk FKR yang kali pertama ini diikuti 5 SMP, antara lain SMP Negeri 1 Klaten, SMP Negeri 4 Klaten, SMP Negeri 7 Klaten, SMP Negeri 2 Karangnongko, dan SMP Kristen 1 Klaten.
Kasubag Umum dan Kebudayaan Kecamatan Klaten Tengah Sutardi yang juga selaku panitia penyelenggara FKR mengungkapkan peserta FKR ini kebanyakan pengrawit (yogo) adalah dari SMP peserta FKR. Dengan tegas menuturkan terselenggaranya FKR ini berkat dukungan dari Pak Edy Sulistiyanto yang mempunyai Toko Amigo. Menurutnya tanpa dukungan Pak Edy Amigo FKR tidak akan sesukses ini. Ke depan Sutardi berharap festival ketoprak remaja akan meningkat.
Sambutan Plt Bupati Klaten Sri Mulyani yang dibacakan oleh Camat Klaten Tengah Widayatno antara lain mengungkapkan ikon ketoprak menjadi media untuk srawung budaya. Maka seni budaya ketoprak hendaknya dikembangkan pada waktu-waktu yang akan datang. Seni budaya ketoprak agar dilestarikan. Festival ketoprak remaja tukuannya bukan untuk mencari menang. Tetapi ini merupakan upaya untuk melestarikan seni budaya ketoprak. “Jadikan Klaten sebagai kota ketoprak, sehingga Klaten tetap bersinar dan kuncoro,”ujar Sri Mulyani.
Dalam evaluasi oleh dewan juri FKR menjelang diumumkannya juara FKR. Senada antara St Wiyono dan Heru Subagyo memberi apresiasi adanya FKR ini di Klaten. Menurut Heru Subagyo FKP maupun FKR baru ada di Klaten. Dalam evaluasinya St Wiyono mengungkapkan karena FKR pesertanya remaja dan masih siswa kelas SMP, maka dalam adegan percintaan yang mesra jangan dilakukan secara lugas atau vulgar, tetapi bisa secara simbolis. Tidak perlu megang-megang secara phisik. Karena FKR ini juga merupakan bentuk edukasi bagi usia remaja.
Pesannya pada pelatih atau pembina di sekolah agar memperhatikan seni peran, seni akting, dan penguasaan space panggung. Dalam hal ini bisa disebut dalam bloking dalam pentas. Juri pada pembina ekstra seni teater untuk lebih berkreatif dalam melakukan seni pentas. Dalam klimak adegan juga disinggung, klimak adegan marah yang merupakan dialog penting tidak harus mengeluarkan ungkapan gertak marah. Tetapi bisa dilakukan dengan suara lirih. St Wiyono mencontohkan waktu Pembayun menyatakan dirinya sebagai Pembayun putri kedaton Mataram pada Mangir. St Wiyono juga menyampaikan dalam mementaskan ketoprak juga baik mengangkat cerita rakyat dari Klaten. Ini dapat mengangkat ikon Klaten. (ksd)


