BERITA KLATEN – Untuk meningkatkan layanan gizi anak bawah lima tahun (Balita) Dinsos P3APPKB Kabupaten Klaten selenggarakan rapat koordinasi dan evaluasi program Genting di Pendopo Pemkab Klaten, Jawa Tengah, Kamis (4/6/2026).
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3APPKB) Kabupaten Klaten Puspo Enggar Hastuti yang menyelenggarakan rapat koordinasi dan evaluasi program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) pada wartawan mengungkapkan rapat koordinasi dan evaluasi ini melibatkan stake holder yang ada di Kabupaten Klaten, antara lain dunia usaha, organisasi, juga perguruan tinggi. Penanganan stunting bukan hanya dari Dinsos dan Dinas Kesehatan, tetapi seluruh masyarakat atau stake holder terlibat semua, secara gotong royong.
Puspo Enggar Hastuti lebih lanjut menuturkan, pemerintah menekankan efisiensi, karena itu Dinsos P3APPKB Kabupaten Klaten mengoptimalkan membuat program Genting targetnya 6000.
Menjawab pertanyaan wartawan, Puspo mengatakan desa yang anak stuntingnya rendah adalah Desa Pesu, Kecamatan Wedi. Menurut Puspo di Desa Pesu ada 8 anak stunting. Petugas Posyandu Desa Pesu bersama masyarakatnya berkomitment memperhatikan untuk penanganan anak stunting. Dinsos P3APPKB Kabupaten Klaten mengapresiasi semangat gotong royong Petugas Posyandu Desa Pesu bersama masyarakat.
Isteri Bupati Klaten Fahrani Hamenang, selaku Ketua TPPKK Kabupaten Klaten yang hadir mengikuti rapat koordinasi dan evaluasi program Genting mengapresiasi adanya rapat koordinasi dan evaluasi program Genting.
Fahrani Hamenang ketika diwawancarai wartawan yang meliput kegiatan rapat koordinasi dan evaluasi program Genting, Fahrani antara lain mengatakan pantauan yang dilakukan lembaga PKK di Kabupaten Klaten jumlah anak yang masuk stunting ada 500 anak yang tersebar di desa-desa.
Anak-anak yang masuk stunting diberi makanan udapan yang bergizi. Makanan yang diberikan pada yang benar-benar bergizi. Jenis makanan mengandung gizi diolah bekerja sama dengan ahli gizi oleh salah satu desa di Kecamatan Wedi. Untuk memantau kondisi anak, setiap bulan anak-anak ditimbang di Posyandu. Jenis makanan yang diberikan pada anak-anak juga dipantau. Jenis makanan apa yang disukai maupun yang tidak disukai oleh anak. Kemudian makanan yang tidak disukai akan diganti makanan yang disukai anak.
Fahrani Hamenang menekankan penanganan stunting bukan hanya tugas Pemerintah Daerah (Pemda) Klaten, tetapi perlu bergandengan tangan dengan semua stake holder. Sehingga harapannya, kelahiran bayi benar-benar bayi sehat.

Dalam rapat koordinasi dan evaluasi program Genting Kabupaten Klaten juga dihadiri oleh Ketua Tim Peran Serta Masyarakat dan Hubungan Antar Lembaga Provinsi Jawa Tengah Dr Nasri Yatiningsih SE MM, ketika diwawancarai wartawan ia antara lain mengungkapkan gerakan menangani anak-anak stunting hakekatnya gerakan gotong royong. Ditegaskan beaya untuk mendanai program Genting tidak menggunakan dana anggaran pendapatan belanja negara maupun anggaran belanja pendapatan daerah (APBN/APBD). Dana benar-benar digali dari masyarakat untuk bantu anak-anak stunting.
Menurut Nasri, di Kabupaten Klaten program Genting tercapai luar biasa, berkat kerja keras Kepala Dinsos P3APPKB Kabupaten Klaten. Programnya menargetkan sejumlah 4000 anak, tetapi capaiannya sejumlah 7000 anak.
“Keterlibatan stake holder dan masyarakat di Kabuapaten Klaten untuk penanganan anak stunting sangat baik. Keterlibatan masyarakat, komunitas-komunitas, dan perguruan tinggi sangat diapresiasi,”tutur Nasri pada wartawan usai rapat koordinasi tersebut.(ksd)